Breaking News

Viral Bocah SD Pakai Kaos Kaki Dari Arang, Potret Pilu Kemiskinan yang Tak Bisa Ditutupi, Elite Negeri Sibuk Bicara Kemajuan di Pidato & Pencitraannya


INDONESIA | literasipublik.id
Sebuah video yang viral di media sosial menyentuh hati jutaan orang. Dalam video tersebut, terlihat seorang ayah mengoleskan arang hitam ke kaki anaknya yang hendak berangkat sekolah. Bukan untuk bermain atau bercanda, melainkan sebagai pengganti kaos kaki yang tak mampu mereka beli.

Anak itu tetap mengenakan seragam sekolah dengan rapi, memikul tas di punggungnya, dan bersiap menuntut ilmu. Namun di balik semangatnya yang luar biasa, tersimpan kenyataan pahit tentang masih banyaknya rakyat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Jika video tersebut benar adanya dan bukan sekadar konten rekayasa, maka ini bukan hanya kisah haru. Ini adalah tamparan keras bagi para pemegang kekuasaan yang selama ini terus mengklaim bahwa kemiskinan menurun, kesejahteraan meningkat, dan rakyat hidup lebih bahagia.

Di saat seorang ayah harus menggunakan arang sebagai pengganti kaos kaki anaknya, rakyat berhak bertanya: di mana hasil nyata dari berbagai program besar yang selama ini digembar-gemborkan?

Ironi semakin terasa ketika di sisi lain negara terus menghabiskan anggaran besar untuk berbagai agenda seremonial, perjalanan dinas, dan proyek-proyek raksasa yang manfaatnya masih diperdebatkan publik. Rakyat kecil tidak membutuhkan slogan. Mereka membutuhkan harga kebutuhan pokok yang terjangkau, pendidikan yang mudah diakses, lapangan pekerjaan yang tersedia, dan layanan kesehatan yang benar-benar berpihak kepada mereka.

Video bocah dengan "kaos kaki" arang itu seolah menjadi simbol kesenjangan antara narasi yang dibangun para elite dan realitas yang dihadapi sebagian rakyat di lapangan.

Sorotan terhadap kondisi tersebut juga datang dari pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie. Melalui akun media sosial pribadinya, Connie membagikan video tersebut dan menuliskan sindiran yang menyita perhatian publik.

"Ini rakyat yang presidennya habiskan Rp20 miliar per_hari tiap dua minggu berkunjung ke luar negeri." Tulisnya.

Unggahan itu langsung memicu perdebatan luas di media sosial. Sebagian mendukung kritik tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap rakyat kecil, sementara sebagian lainnya menilai perlu melihat persoalan secara lebih objektif dan berdasarkan data.

Terlepas dari polemik politik yang muncul, satu hal yang tidak bisa dibantah adalah fakta bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.

Kisah bocah dengan arang di kakinya bukan sekadar cerita sedih. Ia adalah pengingat bahwa ukuran keberhasilan sebuah negara bukanlah seberapa megah proyek yang dibangun atau seberapa sering pejabat tampil di panggung internasional. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika tidak ada lagi anak Indonesia yang harus berangkat sekolah dengan "kaos kaki" dari arang karena kemiskinan.

Sebab kemajuan bangsa seharusnya terlihat dari senyum anak-anaknya, bukan dari megahnya pidato para penguasanya.

(LP/Red).

Redaksi Media literasipublik

Redaksi Media literasipublik

Logo LP Versi 2024

Logo LP Versi 2024

Type and hit Enter to search

Close