Breaking News

Dua Jurnalis Desa Diskusi di Meja Bundar, Ngopi Sambil Membahas Suara dari Lapangan


PANDEGLANG | literasipublik.id
Ditengah suasana sederhana sebuah ruang pertemuan, dua jurnalis desa terlihat duduk berdampingan di meja bundar. Secangkir kopi hangat menemani percakapan mereka yang berlangsung santai, tetapi serius. Dari meja tersebut, berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat menjadi bahan diskusi, mulai dari kehidupan warga desa, pelayanan publik, pembangunan, hingga pentingnya menyampaikan informasi secara berimbang.rabu (26/8/2026) 

Keduanya memandang bahwa jurnalisme di tingkat desa memiliki peran penting dalam mengangkat suara masyarakat yang terkadang belum mendapat ruang pemberitaan secara luas.

Dedi S menyampaikan bahwa jurnalis desa tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan fakta yang berasal langsung dari lapangan.

"Kami ingin pemberitaan dari desa tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi benar-benar menjadi bagian penting dari informasi nasional. Banyak persoalan masyarakat yang sebenarnya berawal dari desa dan perlu diketahui publik,” ujar Dedi S dalam diskusi tersebut.»

Menurut Dedi, perkembangan teknologi digital membuat arus informasi semakin cepat. Kondisi itu memberikan peluang sekaligus tantangan bagi para jurnalis di daerah.

Ia menilai kecepatan dalam menyampaikan berita harus tetap diimbangi dengan ketelitian dalam melakukan verifikasi. Informasi yang diterima dari masyarakat, kata dia, perlu diperiksa sebelum dipublikasikan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Jurnalis harus tetap berpegang pada fakta. Jangan sampai karena ingin cepat memberitakan sesuatu, proses pengecekan justru diabaikan,” katanya.

Perbincangan kemudian berlanjut mengenai kondisi masyarakat di tingkat desa. Secangkir kopi di atas meja menjadi teman diskusi ketika keduanya membahas berbagai persoalan yang mereka temui selama menjalankan aktivitas jurnalistik.

Di lokasi yang sama, Epul mengatakan bahwa keberadaan jurnalis desa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Kedekatan tersebut menurutnya dapat menjadi modal penting untuk memahami persoalan secara lebih utuh.

«“Kami berada di tengah masyarakat. Karena itu, kami bisa melihat langsung bagaimana kondisi warga, apa yang menjadi kebutuhan mereka, dan persoalan apa yang sedang berkembang,” kata Epul.»

Epul menambahkan, pemberitaan mengenai desa seharusnya tidak hanya berorientasi pada persoalan, tetapi juga dapat mengangkat berbagai potensi dan keberhasilan masyarakat. Desa memiliki banyak cerita mengenai kegiatan sosial, ekonomi kreatif, pendidikan, kebudayaan, hingga usaha masyarakat yang layak diketahui lebih luas.

Menurutnya, pemberitaan yang berimbang dapat membantu masyarakat memperoleh informasi sekaligus mendorong perhatian terhadap berbagai persoalan yang membutuhkan penyelesaian.

“Kalau ada persoalan, kita sampaikan secara proporsional. Kalau ada hal positif, kita juga harus mengangkatnya. Prinsipnya tetap berimbang dan berdasarkan fakta,” ujarnya.

Diskusi dua jurnalis tersebut berlangsung dalam suasana akrab. Sesekali percakapan diselingi tegukan kopi, namun pembahasan tetap berfokus pada masa depan jurnalistik di daerah.

Bagi mereka, menjadi jurnalis desa bukan sekadar menjalankan pekerjaan, melainkan juga menjadi bagian dari proses menyampaikan suara masyarakat. Informasi yang berasal dari lapangan dinilai memiliki arti penting karena dapat menjadi gambaran mengenai kondisi masyarakat secara nyata.

Dedi S dan Epul sepakat bahwa profesionalisme harus menjadi landasan utama dalam menjalankan kegiatan jurnalistik. Mereka juga menilai bahwa jurnalis perlu terus meningkatkan kemampuan, memahami etika jurnalistik, serta menjaga kepercayaan masyarakat.

Di era ketika informasi dapat menyebar hanya dalam hitungan detik, keduanya menilai masyarakat membutuhkan pemberitaan yang tidak sekadar cepat, tetapi juga akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Percakapan sederhana di meja bundar itu akhirnya menjadi gambaran bahwa dari ruang-ruang kecil di desa pun dapat lahir gagasan besar mengenai pentingnya informasi yang sehat.

Dengan secangkir kopi sebagai teman diskusi, dua jurnalis desa tersebut kembali mengingatkan bahwa suara masyarakat di tingkat paling bawah tetap memiliki tempat dalam ruang pemberitaan nasional.

(LP/Red).

0 Komentar


Redaksi Media literasipublik

Redaksi Media literasipublik

Logo LP Versi 2024

Logo LP Versi 2024

Type and hit Enter to search

Close